Rabu, 13 Juni 2012

Berbeda Foto, Peserta Diperiksa

Diperiksa karena berbeda
Peserta ujian tulis Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Kota Semarang kemarin diperiksa ketat untuk mencegah praktik perjokian. Sejumlah peserta terpaksa diminta ke posko ujian untuk memverifikasi data diri karena foto diri mereka pada kartu ujian dianggap berbeda. 

Seperti yang dialami Khoerum Thoharoh, salah seorang peserta ujian tulis SNMPTN yang mengikuti tes di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Dia mengaku harus mengikuti verifikasi data diri di posko karena foto yang terpasang pada kartu peserta dinilai berbeda. Meski demikian, Khoerum akhirnya diperbolehkan mengikuti tes tersebut.

"Sebenarnya hanya untuk mencocokkan. Sebab foto yang di kartu tidak memakai jilbab. Sedangkan saya mengikuti tes ini memakai jilbab," ujar gadis asal Boja, Kendal, tersebut. 

Sementara itu, puluhan peserta tidak mengikuti tes tanpa alasan yang jelas. Di lokasi SMAN 9 Semarang misalnya, dari 404 peserta, 16 di antaranya tidak hadir pada pelaksanaan tes. Selain itu, ditemukan juga peserta yang tidak membawa ijazah atau bukti kelulusan dari sekolah. Namun panitia masih mengizinkan ikut ujian.

"Peserta yang bersangkutan bisa tetap ujian, tentunya dengan dicatat kelengkapan kekurangan untuk dilaporkan kepada panlok (panitia lokal) 42 Semarang," ujar petugas di lokasi tersebut Rudi Hartanto, kemarin. 

Rektor Undip Semarang, Prof. Sudharto P Hadi berkata, secara umum pelaksanaan SNMPTN ujian tulis di Semarang berlangsung lancar pada hari pertama. "Sejauh ini belum ada temuan indikasi perjokian, penyimpangan-penyimpangan, maupun manipulasi, dan kondisi lapangan aman," ujarnya usai memantau beberapa fakultas di kampus Undip Tembalang yang menjadi lokasi ujian. 

Di tempat terpisah, Sekretaris Umum Panitia Pusat SNMPTN Prof. Dr. Rochmat Wahab mengatakan, bagi peserta berkebutuhan khusus tahun ini mendapat kesempatan tambahan waktu selama 30 menit. "Tahun ini memang belum ada kebijakan mengenai soal khusus seperti braille. Memang sebaiknya ada tapi kan menyediakan soal khusus seperti itu tidak mudah," katanya saat memantau ujian tulis SNMPTN di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, kemarin.

Ketua Panitia Lokal SNMPTN Yogyakarta Prof. Budi Prasetyo berkata, ujian tulis SNMPTN di Yogyakarta tahun ini diikuti 36.490 orang. Jumlah ini terdiri dari 14.700 peserta kelompok IPA, 15.680 peserta kelompok IPS dan 6.110 peserta kelompok IPC. 
"Ujian kali ini menggunakan 1.092 ruangan dengan tingkat kepenuhan ruang sebesar 99,6 persen. Kelompok IPA dilaksanakan di UGM, IPS di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan IPC di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga," jelasnya. 

Di Solo, Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Dr Ravik Karsidi MS menjelaskan, sebanyak 803 peserta tidak hadir dalam ujian tulis SNMPTN, kemarin. "Dari jumlah tersebut, baru satu orang yang sudah dapat dipastikan alasannya karena karena namanya dobel. Sedangkan lainnya masih belum jelas," jelasnya.


Maka diharapkan mempunyai wajah asli harap di foto tanpa aksi yang eksis.

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkomentar :)